Sekarang kita coba sendiri dan lihat apakah beneran seribet itu atau cuma kelihatannya aja?
Pernah kepikiran bikin website sendiri tapi langsung mundur karena mikir, “Wah, pasti ribet deh”? Padahal, belum tentu. Dengan WordPress, proses membuat website bisa dilakukan tahap demi tahap tanpa harus langsung pusing dengan hal-hal yang terlalu teknis. Mulai dari menentukan konsep, mengatur tampilan, memasukkan foto dan informasi, sampai website siap online, semuanya punya urutannya sendiri. Nah, daripada cuma mengira-ngira ribet, yuk lihat sendiri prosesnya.
1. Tentukan Dulu Website-nya Mau Dibawa ke Mana
Sebelum masuk ke WordPress dan mulai klik sana-sini, tentukan dulu website yang mau dibuat. Mau digunakan untuk apa? Informasi apa yang ingin ditampilkan? Siapa yang nantinya akan melihat website tersebut?
Untuk website portofolio, saya memilih beberapa bagian seperti perkenalan diri, pendidikan, pencapaian, pengalaman, foto, dan artikel. Dengan menentukan isinya dari awal, proses berikutnya jadi lebih terarah dan nggak asal memasukkan semuanya ke satu halaman.
2. Siapkan Domain dan Hosting
Bagian ini mungkin kedengarannya paling teknis, padahal konsepnya cukup sederhana. Domain adalah alamat website yang nantinya digunakan untuk mengakses website, sedangkan hosting adalah tempat untuk menyimpan berbagai isi website.
Saya menggunakan D-NET untuk menyiapkan domain dan hosting melalui link berikut:
https://my.dnet.net.id/cart.php?a=add&pid=77&promocode=pandixdnet&sld=gantisaya&tld=.my.id
Setelah itu, untuk masuk dan mengatur hosting, gunakan panel berikut:
https://hesti.dnet.net.id:8083/login
Kalau domain dan hosting sudah siap, berarti bagian yang awalnya kelihatan ribet sudah mulai terlewati. Selanjutnya tinggal masuk ke bagian utama, yaitu WordPress.
3. Masuk ke WordPress dan Mulai Atur Website
Setelah hosting siap, WordPress bisa mulai digunakan untuk membangun website. Di sinilah berbagai bagian website nantinya diatur.
Setelah masuk ke Dashboard WordPress, kita bisa menemukan berbagai menu untuk mengatur halaman, tulisan, gambar, tampilan, dan bagian lainnya. Jadi, nggak perlu membangun semuanya dari halaman kosong dengan coding sendiri. Tinggal kenali menu yang dibutuhkan dan mulai atur sesuai konsep website.
4. Pilih Tema, Biar Website Nggak Kelihatan Polos
Kalau sudah masuk WordPress, sekarang waktunya mengurus tampilan. WordPress menyediakan berbagai tema yang bisa dipilih sesuai kebutuhan website.
Setelah menentukan tema, saya mulai menyesuaikan beberapa bagian seperti warna, font, gambar, ukuran tulisan, tombol, dan tata letak. Saya memilih tampilan yang simpel dan rapi supaya website tetap enak dilihat tanpa terasa terlalu ramai.
Di tahap ini baru kelihatan kalau membuat website nggak harus langsung jago desain. Kita bisa mulai dari tema yang sudah tersedia, lalu mengubahnya sedikit demi sedikit.
5. Masukkan Isi Website
Tampilan sudah mulai jadi, sekarang jangan sampai websitenya cuma bagus di luar tapi kosong di dalam. Saatnya membuat halaman dan memasukkan informasi yang sudah disiapkan sebelumnya.
Untuk website portofolio, saya membuat beberapa bagian seperti halaman utama untuk perkenalan singkat, About untuk informasi diri dan pendidikan, Achievement untuk pencapaian, Gallery untuk foto dan dokumentasi, serta Blog untuk tulisan.
Dengan membagi informasi ke beberapa halaman, website jadi lebih teratur dan pengunjung bisa menemukan informasi tanpa harus scroll satu halaman panjang.
6. Tambahkan Foto dan Dokumentasi
Kalau semua isinya tulisan, website bisa terasa cukup monoton. Karena itu, tambahkan foto atau dokumentasi yang memang berhubungan dengan isi portofolio.
Misalnya foto kegiatan, sertifikat, hasil karya, atau gambar lainnya. Pilih foto yang memang diperlukan dan atur posisinya supaya tetap enak dilihat. Nggak perlu memasukkan semua foto yang ada—yang penting sesuai dengan isi website.
7. Bikin Navigasinya Gampang
Website sudah berisi berbagai halaman, tapi jangan sampai pengunjung malah bingung harus klik yang mana. Karena itu, atur menu navigasi supaya setiap halaman bisa ditemukan dengan mudah.
Halaman utama seperti About, Achievement, Gallery, atau Blog bisa dimasukkan ke menu. Sementara tombol seperti Read More bisa diarahkan ke halaman yang berisi informasi lebih lengkap.
Jadi, pengunjung nggak perlu nebak-nebak harus ke mana. Tinggal klik dan langsung sampai ke bagian yang dicari.
8. Cek Dulu, Baru Publish
Sebelum akhirnya website dibagikan, jangan langsung buru-buru publish. Coba lihat lagi semuanya dari awal.
Cek apakah tulisannya sudah benar, foto muncul dengan baik, menu bisa digunakan, tombol mengarah ke halaman yang sesuai, dan link tidak error. Kalau perlu, buka website dari tampilan pengunjung untuk memastikan semuanya terlihat seperti yang diinginkan.
Kalau semuanya sudah aman, tinggal buka domain yang sudah dibuat. Kalau website sudah muncul dan semua bagian berjalan dengan baik, berarti website kita sudah siap dilihat orang lain.
Dan Yeay! Website Sudah Berhasil Dibuat!
Jadi, katanya bikin website ribet. Katanya. Setelah dicoba sendiri, ternyata yang bikin kelihatan ribet justru karena kita belum tahu harus mulai dari mana. Kalau prosesnya dipecah menjadi beberapa langkah, semuanya jadi lebih gampang dipahami dan dikerjakan satu per satu.
Mulai dari menentukan konsep, menyiapkan domain dan hosting, masuk ke WordPress, memilih tema, mengisi konten, menambahkan foto, sampai mengatur navigasi, setiap tahap punya bagian masing-masing. Bahkan setelah website selesai dibuat, masih ada banyak hal yang bisa dikembangkan. Kita bisa menambahkan pengalaman baru, pencapaian, karya, foto, maupun artikel kapan saja. Jadi, kalau sebelumnya cuma kepikiran “pengen punya website”, mungkin sekarang waktunya berhenti bilang ribet dan mulai bikin.
Leave a Reply